Mengulas Novel Horor Terbaik Tahun Ini

Saya hampir melewatkan buku ini gara-gara judulnya. Proposal Untuk Hantu — kedengarannya kayak judul sketsa komedi, bukan novel yang bakal saya ingat-ingat pas mau tidur. Sepanjang tahun ini lumayan banyak bacaan seram mampir ke meja saya, dan sebagian besar lewat begitu saja: seram sebentar, lupa besoknya. Yang satu ini beda. Dia nempel. Dan cara dia nempel itu yang bikin saya akhirnya duduk nulis ulasan ini.

Perasaan paling aneh selama membacanya: ketawa dan merinding di halaman yang sama. Saya jarang banget ngalamin itu, dan ternyata memang di situ letak kekuatannya.

Premisnya kedengaran kayak bercandaan, eksekusinya serius

Arka, arsitek muda yang lagi ngejar karier, kebagian proyek besar: menggarap “Desa Gempita Smart Village”. Ada proposal yang harus dipresentasikan, ada atasan yang nuntut hasil, ada warga yang harus diyakinkan. Sejauh ini kedengaran kayak kerjaan biasa. Masalahnya dan ini bukan bocoran, karena ada di sinopsisnya — klien yang sesungguhnya bukan warga yang masih hidup. Para penghuni lama desa itu, yang sudah lama tiada, ternyata punya pendapat sendiri soal pembangunan.

Cerita “orang kota datang ke desa terpencil terus diganggu” itu formula yang udah dipakai di mana-mana: film, series, thread viral. Jujur, saya sempat siap-siap bosan. Tapi buku ini masuk lewat pintu yang nggak saya duga: dunia kerja. Rapat, revisi, jargon presentasi, tenggat — semua keabsurdan kantoran yang kita hafal, ditabrakkan ke situasi yang jelas-jelas beda alam. Lucunya justru muncul karena semua tokohnya berusaha tetap profesional di tengah keadaan yang sama sekali nggak masuk akal. Ini jenis komedi yang cuma bisa lahir dari orang yang pernah kerja kantoran dan pernah takut setan sekaligus.

Seremnya pelan, dan justru itu yang bikin awet

Yang saya hargai, bagian horornya nggak ngandelin kejutan murahan. Takutnya nggak datang dari sosok yang tiba-tiba nongol, tapi dari detail kecil yang salah tempat — hal-hal yang kelihatan hampir normal, tapi ada yang nggak beres. Kamu baca satu kalimat yang kelihatannya biasa aja, terus tiga detik kemudian otakmu nyusul: “bentar… tadi itu maksudnya apa?” Merindingnya datang telat, kayak sinyal yang lemot. Buat saya, seram model begini jauh lebih awet daripada yang cuma bikin kaget sesaat.

Arka sendiri bukan jagoan pemberani. Dia ragu, dia takut, dan beberapa keputusannya bikin saya pengin nyubit dia lewat halaman. Tapi justru itu yang bikin tegang: dia bertingkah kayak kita, bukan kayak tokoh yang sadar dirinya hidup di dalam novel horor. Waktu dia salah langkah, reaksi saya bukan “ih bego”, tapi “duh, kayaknya saya juga bakal gitu”.

Bukannya tanpa cela

Di sekitar pertengahan, ada beberapa bab yang jalannya melambat. Nggak sampai bikin saya berhenti, tapi kerasa kayak cerita lagi ambil napas agak kelamaan. Terus ada satu-dua pertanyaan yang sampai halaman terakhir dibiarkan menggantung — mungkin disengaja, tapi saya tipe pembaca yang maunya semua simpul diikat rapi, jadi ada sedikit rasa gantung waktu nutup bukunya.

Untungnya, sepertiga terakhir ngebut. Rencana awal saya “satu bab lagi terus tidur” gagal total. Dua ratus empat puluh delapan halaman habis dalam dua malam, dan malam kedua itu murni salah saya sendiri.

Buat yang seleranya horor penuh darah dan adegan sadis, ini bukan bukunya — di sini nggak ada yang dimutilasi, paling cuma karier dan ketenangan batin Arka. Tapi kalau kamu suka horor suasana yang dibungkus komedi, jenis bacaan yang bikin kamu ketawa terus ngerasa bersalah udah ketawa, ini salah satu yang paling asyik yang saya baca tahun ini. Satu saran kecil: bagian tengah ke belakang jangan dibaca larut malam sendirian. Bukan apa-apa. Pengalaman pribadi.

Bukunya ada di katalog Bintang Mustika — terakhir saya cek stoknya sempat kosong, jadi kalau pas kamu buka lagi ada, jangan kelamaan mikir. Dan kalau setelah baca kamu jadi memandang ruang rapat dan layar proyektor dengan perasaan yang agak berbeda… ya, saya juga.